- Back to Home »
- KAMU TAHU ? »
- 5 level Khusyu' dalam Shalat
Posted by :
Farhan Kamil Sandika
22 Nov 2016
Shalat adalah amal yang pertama kali akan ditanya di hari akhirat kelak. Jika baik shalatnya akan baik pula seluruh amalannya sehingga kita dengan bebas melenggang masuk ke syurga. Namun, jika shalat kita tidak baik, akan panjanglah urusan dan berkuranglah kesempatan kita untuk merasakan kenikmatan abadi. Allah s.w.t berfirman : "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [QS. Ibrahim : 31].
Banyak orang menggambarkan shalat khusyu’ itu menjadi sesuatu yang sangat abstrak. Memang pada hakikatnya khusyu’ itu adalah rahmat Allah, namun kita perlu menyadari pula bahwa rahmat Allah itu tidak serta merta diberikan begitu saja kepada kita.
Berikut ini adalah level shalat yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah(Ia adalah ahli fiqih bermazhab Hambali. Juga seorang ahli Tafsir, ahli hadits, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid yang hidup di abad ke-13). beliau mengelompokan kekhusyu'an dalam shalat, antara lain :
1. Orang yang berdosa dengan shalatnya
Orang yang shalat tidak sama sekali memberikan haknya. maksudnya mereka yang shalat hanya karena disuruh oleh orang lain, hanya karena tidak enak karena dilihat orang lain, berwudhu atau tidak. ini sama saja seperti mempermainkan shalat dan termasuk kedalam riya'. orang yang semacam ini shalatnya hanya akan berbuah dosa.
2. Orang yang shalat, namun tidak mendapat pahala
Orang yang semacam ini dia tau bahwa shalat itu diperintahkan oleh allah. namun dalam pelaksanaannya, ia malah mengkhayal dari awal takbir sampai salam. shalat semacam ini adalah percuma, karena shalatnya tidak berpahala. Nabi Muhammad S.A.W bersabda : "Ada orang yang hari kiamat diremuk-remuk shalatnya seperti pakaian kotor lalu dilemparkan kewajahnya.". Apakah mau kita mengalami yang seperti ini?? terntu tidak bukan?. allah tidak butuh shalat kita. walaupun kita shalatnya sangat khusyuk dan walaupun sujudnya sampai berhari-hari gak angkat kepala, tetap saja allah tidak butuh dengan itu. kata Nabi s.a.w dalam hadits qudsi, Allah s.w.t berfirman: "Wahai anak adam, apapun yang kau kerjakan, tidak akan bermanfaat bagi-Ku dan Aku akan kembalikan kepadamu, itu amal kalian yang akan bermanfaat untuk kalian sendiri. tidak ada manfaatnya buat Saya" kata Allah s.w.t, hadist qudsi.
Baca Juga : SUBHANALLAH Inilah bukti kebenaran AGAMA ISLAM
3. Orang yang mendapat sebagian pahala dalam shalatnya
Sebagaimana Nabi s.a.w bersabda: "Ada orang yang shalat tidak mendapatkan kecuali setengah pahalanya. Ada orang yang shalat tidak dapat kecuali sepersepuluh dari shalatnya". shalat semacam ini mendapat pahala namun kecil pahalanya, karena dia lebih banyak mengkhayal daripada fokusnya.
4. Orang yang mendapat mayoritas pahala shalatnya tapi masih ada yang hilang.
Bedanya dengan orang yang ketiga adalah mayorias pahalanya hilang, hanya sedikit yang dia dapatkan. biasanya orang seperti ini sudah berusaha fokus dalam shalatnya tetapi terkadang masih mengkhayal. maka ini lebih dominasi pahala yang dia dapatkan daripada hilangnya pahala. karena ketika kita sedang membaca Al-Qur'an atau kita sedang membaca bacaan shalat kemudian kita fokus dan dapat konsentrasi mengikuti bacaannya, maka akan dapat pahala terus perhurufnya, demikian juga pergerakan dalam shalat. tapi pada saat kita membaca bacaan shalat tapi tidak sadar karena mengkhayal dan tidak fokus hanya lisan kita yang karena sudah terbiasa membacanya karena sudah rutinitas, kalau semacam ini tidak ada pahalanya.
5. Orang yang mendapat pahala (full) dalam shalatnya.
Orang yang semacam ini, dia bisa fokus mulai dari takbir hingga salam. bahkan ketika mereka sedang shalat, mereka bisa lupa siapapun yang ada di sekitarnya.
Abu Said al-Khudri r,a berkata: "Saya pernah diperintahkan oleh Nabi Muhammad s.a.w menjaga pasukan di malam hari dan Nabi s.a.w sedang tidur bersama dengan pasukan. Maka saya pun shalat di semak belukar. pada saat saya sedang shalat, tiba-tiba mata-mata musuh dari jauh itu memanah saya, dan tepat jatuh di jantung saya. tetapi saya tidak merasakan apapun karena saya sedang menikmati bacaah surah al-kahfi".
Orang yang mengkayal, pikirannya melayang ke mana-mana, bahkan memikirkan sesuatu yang buruk, shalatnya masih dihukumi sah. Meskipun sah, shalatnya dianggap makruh karena hatinya tidak hadir dan dia tidak meresapi bacaan yang dilafalkannya.
Kekhusyukan memang tidak menjadi kewajiban di dalam shalat, namun bukan berarti kita mengabaikannya. Kita mesti mengupayakan dan mengusahkannya. Minimal kita berusaha merenungi dan meresapi setiap bacaan yang dilafalkan ketika shalat. Di sini kita mengerti betapa kekhusyukan adalah barang mahal tiada tara. Wallahu a’lam.
Demikian 5 level dalam shalat yang di riwayatkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Pertanyaannya, sudah mencapai level berapakah kita??.. kalau mimin pribadi insyaallah sudah mencapai level yg ke-3. akan tetapi juga masih sering berfluktuatif. Harapan mimin semoga kita bisa terus istiqomah dalam beribadah dan berupaya untuk mencapai level tertinggi dalam kekhusyu'an shalat. Amiin ...
Sumber: Lampu Islam dan NU
